Lalu aku mendengar, orang-orang menyebut ibumu gerwani. Ibumu memakai beha hitam dengan lambang merah di satu pucuknya, palu arit di pucuk yang lain, kata mereka. Ia mengumpulkan perempuan-perempuan dan mengajar tali telanjang, dan mengirim wanita-wanita untuk merayu para prajurit dengan pinggul mereka agar percaya pada komunisme, bukan pada segala tuhan. Sembari bernyanyi genjer-genjer. Tetapi…
BUKU INI berisi cercahan pikiran dan keseharian seorang perempuan muda urban. Di akhir usia duapuluhan ia memutuskan untuk tidak menikah dan menyebut diri Si Parasit Lajang (istilah yang dilontarakan feminis Jepang). Ia terkesan sangat cuek, tapi di pihak lain ia sangat mengamati dan memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Tulisannya menunjukkan bahwa orang juga bisa bersikap kritis bahkan samb…
Buku ini menguraikan secara sistematis dan kronologis kesusasteraan Indonesia modern khususnya bagi pelajar dan mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia. Diawali dengan pengantar tentang karakteristik unik sastra Indonesia dalam perbandingannya dengan apa yang disebut sNusantara, maka dibukalah babak kelahiran sastra Indonesia modern sejak awal abad kedua puluh.
Menikah = bahagia? Namun, mengapa banyak yang justru tidak bahagia ketika menikah? Bahkan berujung pada perceraian. Berdasarkan pengalaman membantu ribuan pasangan, Indra dan Nunik memberikan jawabannya dalam buku ini. Mereka juga membagi pengalaman jatuh-bangun mempertahankan pernikahan yang berkali-kali hampir kandas. Dengan beberapa artikel tambahan, edisi terbaru ini sangat tepat …
Pada suatu malam, ketika keluargaku kebetulan pulang kampung, aku dikagetkan oleh suara keras mereka. Apa mereka bertengkar? Kudengarkan baik-baik. Yang kiri mengatakan dengan lantang bahwa mereka sebenarnya tidak berasal dari kulit sapi yang sama. “Mana mungkin!” kata yang kanan menegaskan. “Kita berasal dari seekor sapi. Kulitnya yang lebar itu disamak, lalu dipotong-potong dengan mesin…
Sepanjang hidup saya melihat manusia berkaki empat. Berekor anjing, babi atau kerbau. Berbulu serigala, landak, atau harimau. Dan berkepala ular, banteng, atau keledai. Namun tetap saja mereka bukan binatang. Cara mereka menyantap hidangan di depan meja makan sangat benar. Cara mereka berbicara selalu menggunakan bahasa dan sikap yang sopan. Dan mereka membaca buku-buku bermutu. Mereka menulis …
Dengan demikian maka antologi puisi “Resonansi Tiga Hati” ini unik dan patut dicatat dalam dunia kreatifitas puisi Indonesia. Ternyata kemerosotan 70 tahun dalam pengajaran bahasa dan sastra di dunia pendidikan negeri kita, tidak berlaku bagi ketiga mereka ini. Kekecualian ini bukan kebetulan, karena mereka bertiga ini dalam profesinya jelas pembaca buku (dalam jumlah besar) dan penulis …
Ada sejumlah hal menarik dari sebagian besar cerpen yang terhimpun dalam buku ini. Salah satu hal yang cukup menonjol dari sebagian besar cerpen itu adalah adanya kecenderungan untuk melakukan eksplorasi warna lokal. Dalam hal ini, warna lokal yang diamksud adalah kekayaan kultur etnik, sekaligus juga dengan problem yang melekat di dalamnya. Masalah ini sesungguhnya tidaklah berdiri sendiriatau…
Titis Basino Purnomo yang kelahiran magelang ini merupakan sastrawati yang amat produktif. Puluhan hasil karyanya berupa roman dan cerita pendek telah banyak dibukukan. Dalam waktu relatif singkat beberapa judul buah ciptanya antara lain, Pelabuhan Hati (1978), Di Bumi Aku Bersua di Langit Aku Bertemu (1983), Bukan Rumahku (1986), dll. Bersama Sukma dan K. Wekas ini terbit pula tiga judul lainn…